RSS

Kuatkan Iman

Rabu, 16 Maret 2011

Akibat Meniggalkan Sholat Wajib


1. Kehidupan kita di dunia tidak akan berkah
2. Menghilangkan Rezeky
3. Menghilangkan tanda-tanda Kesolehan yang ada di muka kita
4. Jika ada orang yang berdoa berkata " muslimin wal muslimat ....." kita bukan termasuk di bagiannya, atau kita bisa dibilang bukan orang islam
5. ALLAH tidak akan menerima amalan-amalan yang kita lakukan. seperti puasa, sedekah dll
6. Tidak diterima doanya atau tidak diangkat ke langit
7. Matinya Hina : ketika sakaratul maut dia akan terasa sangat lapar dan haus (air yang di laut tak akan mampu untuk menghilangkan dahaganya)
Baca Selanjutnya - Akibat Meniggalkan Sholat Wajib

Rabu, 09 Maret 2011

Kemajuan iptek banyak ungkap kebenaran Al-Quran

Ilmuwan Mesir, Prof Dr Zagloul Mohamed El-Naggar,mengatakan, semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), semakinterungkap pula keajaiban kitab suci Al Quran. "Al Quran bukan buku ilmu pengetahuan,tetapi ayat-ayat mengenai alam semesta (kauniyah) kini terbukti dalampenemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini," kata Prof Naggardalam ceramahnya di Aula Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) SyarifHidayatullah, Jakarta, pada Kamis 30/9/2010 silam. 
Pakar ilmu bumi (geologi) tersebut mengupas beragampenemuan ilmiah mengenai alam semesta yang mengamini hakikat kebenaran AlQuran. Sebagai contoh, Ayat-6 Surat Al Thur, "Al Bahrul Masjur" (Demilaut yang—di dalam tanah bawah laut itu—ada api). Terbukti secara ilmiah olehpara ahli geologi dan ilmu kelautan bahwa dasar semua samudra dipanasi olehjutaan ton magma yang keluar dari perut bumi. Menurut peraih doktor geologi jebolan UniversitasWales, Inggris, pada tahun 1963 itu, magma tersebut keluar melalui jaringanrengkahan raksasa yang secara total merobek lapisan litosfir dan sampai kelapisan astenosfir. "Para ilmuwan yang jujur akan kagum melihatkepeloporan Al Quran dan hadis-hadis Nabi terkait petunjuk tentangfakta-fakta ilmiah bumi, yang baru dapat dibuktikan pada akhir abad ke-20seiring dengan kemajuan iptek," kata ilmuwan yang telah menghafal semua 30juz Al Quran saat berusia sepuluh tahun itu. 
Fakta ilmiah lain, katanya, yaitu Ayat 15 dan 16 SuratAt Takwir: "Fala Uqsimu bil khunnas. Al Jawaril Kunnas" (Akubersumpah dengan bintang-bintang yang tak tampak. Yang bergerak sangat cepat).
Prof Naggar menjelaskan, para ulama dahulu menafsirkan ayat tersebut secarametaforis, namun para ahli astronomi pada akhir abad ke-20 menemukan faktailmiah, yaitu apa yang disebut black hole (lubang hitam).
Black hole adalah planet yang ditandaidengan densitas yang tinggi dan gravitasi yang kuat, tempat zat dan semuabentuk energi, termasuk cahaya, tidak mungkin lepas dari perangkapnya, katanya.Disebut lubang hitam karena ia sangat gelap tak terlihat, dengan kecepatangeraknya diperkirakan mencapai 300.000 km per detik. Black hole dianggap sebagai fase tua kehidupanbintang, yang didahului ledakan dan zatnya kembali menjadi nebula. "Faktaini baru terungkap pada akhir abad ke-20, yakni 14 abad setelah wafatnya NabiMuhammad SAW," kata Prof Naggar. 
Baca Selanjutnya - Kemajuan iptek banyak ungkap kebenaran Al-Quran

Sabtu, 05 Maret 2011

malaikat dan tugasnya

Baca Selanjutnya - malaikat dan tugasnya

Orang yang sholat pasti selamat

Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mendirikan solat, dan hendaklah engkau tekun bersabar menunaikannya
[Taha : 32 ]




Baca Selanjutnya - Orang yang sholat pasti selamat

Jumat, 04 Maret 2011

cara bersujud

Nabi Muhammad Berkata :"sujudlah kamu jangan seperti unta "
artinya sujud harus diawali dengan kaki dulu, jangan tangan dulu.
Baca Selanjutnya - cara bersujud

Rabu, 02 Maret 2011

Kepada Siapa Loyalitas dan Permusuhan Kita Tujukan?

Kepada Siapa Loyalitas dan Permusuhan Kita Tujukan?: "
I. Pengantar

Pembaca mulia, di antara prinsip yang harus dipegang seorang muslim adalah masalah loyalitas dan permusuhan. Kepada siapa loyalitas kita berikan, dan kepada siapa pula rasa permusuhan kita tujukan? Ini merupakan masalah prinsip yang harus dipegang erat, tetapi mulai dilalaikan sebagian kaum muslimin di hari ini.


Dalam pelajaran aqidah Islam, prinsip loyalitas dan permusuhan disebut dengan istilah الولاء و البراء /al-wala’ wal bara’/. Maka, dalam buletin edisi ini, akan diurai prinsip tersebut secara ringkas. Wallahu muwaffiq

II. Apa itu Al-Wala’ wal Bara’

Al-Wala’ (الولاء) secara bahasa artinya adalah “dekat”. Adapun arti yang dimaksud dalam pelajaran aqidah adalah kedekatan sesama kaum muslimin dalam rasa saling cinta, cinta, saling bantu dan saling tolong di antara sesama mereka, serta kebersamaan mereka dalam hal wilayah tempat tinggal. Termasuk dalam hal ini adalah rasa kebersamaan mereka dalam melawan perbuatan makar musuh-musuh Islam.

Adapun Al-Bara’ (البراء ) secara bahasa artinya adalah “memutus” atau “memotong”. Maksud Al-Bara’ dalam pembahasan aqidah adalah pemutusan hubungan atau ikatan hati dari orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai, membantu dan menolong mereka serta tidak tinggal bersama mereka.[1]

III. Kedudukan Al-Wala’ wal bara’ dalam Islam

Allah telah memerintah kita untuk memberikan loyalitas penuh kepada sesama saudara muslim, yang dengannya setiap muslim wajib saling tolong menolong di antara sesama mereka. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah ta’ala surat Al-Maidah ayat 56 yang artinya,

…Barangsiapa menjadikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

Di sisi lain, Allah juga memerintah kita untuk tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat. Hal ini dapat kita ketahui dari firman-Nya dalam surat Al-Mumtahanah ayat 1, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman-teman setia …

Berdasarkan hal di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tolak ukur rasa cinta, loyalitas, dan benci adalah keimanan kepada Allah. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, yang artinya: “Tali iman paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”[2] Maka, konsekuensi dari hal ini adalah loyalitas tidak kita berikan kepada seseorang, jika seseorang tersebut tidak beriman kepada Allah. Dengan kata lain, sebab timbulnya rasa permusuhan dan rasa benci kita kepada orang lain adalah kekafiran orang lain tersebut. Tidakkah kita perhatikan kisah Ibrahim yang berlepas diri dari kaumnya karena kekafiran mereka? Cermatilah kisah tersebut dalam surat Al-Mumtahanah ayat 4 berikut ini, yang artinya “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja’.”

IV. Derajat Kemuliaan Seseorang dapat Diraih, Jika Ia Memegang Teguh Prinsip Al-Wala’ wal Bara’

Seseorang dapat mencapai kemuliaan yang besar di sisi Allah, yaitu Allah akan memberi dirinya derajat kewalian, jika orang tersebut menerapkan prinsip loyalitas dan permusuhan secara benar. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat shahabat Nabi, Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu anhuma, “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi rasa loyalitas karena Allah dan memusuhi karena Allah, sesungguhnya kewalian Allah hanya dapat diperoleh dengan itu.”[3]

V. Renungilah Sikap Teladan Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul

Allah ta’ala berfirman, menceritakan orang munafik yang berkata,

Sesungguhnya jika kita telah kembali ke kota Madinah, al-a’azzu (orang yang kuat) benar-benar akan mengusir al-adzallu (orang yang lemah) dari kota tersebut.” (Al-Munafiqun: 8)

Orang munafik yang mengatakan demikian adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dia menganggap al-a’azzu (orang yang kuat) adalah dirinya, sedangkan al-adzallu (yang lemah) adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam. Ia mengancam akan mengusir Rasulullah dari Madinah. Ketika keinginan Abdullah bin Ubay itu didengar oleh anaknya sendiri yang bernama Abdullah, seorang mukmin yang taat dan jujur, apalagi dia juga mendengar bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam ingin membunuh Abdullah bin Ubay yang mengucapkan kata-kata penghinaan tersebut, juga kata-kata lainnya, seketika itu pula Abdullah menemui Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendengar bahwa Anda ingin membunuh Abdullah bin Ubay, ayah saya. Jika anda benar-benar ingin melakukannya, saya bersedia membawa kepalanya kepada anda“. Maka, Rasulullah shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Bahkan, kita akan bergaul dan bersikap baik kepadanya selama dia tinggal bersama kita.”

Ketika Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam dan para sahabat kembali pulang ke Madinah, Abdullah (yang shalih) putra Abdullah bin Ubay (yang munafik) berdiri menghadang ayahnya di pintu kota Madinah dengan menghunus pedangnya. Orang-orang pun berjalan melewatinya.

Ketika ayahnya lewat, Abdullah berkata kepada ayahnya, “Mundur!” Ayahnya bertanya keheranan, “Ada apa ini, jangan kurang ajar kamu!” Abdullah menjawab, “Demi Allah, jangan melewati tempat ini sebelum Rasulullah mengizinkanmu, karena beliau adalah al-aziz (yang mulia) dan engkau adalah adz-dzalil (yang hina).”

Maka, ketika Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam datang padahal beliau berada di pasukan bagian belakang, Abdullah bin Ubay mengadukan anaknya kepada beliau. Anaknya, Abdullah berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, dia tidak boleh memasuki kota sebelum Anda mengizinkannya.”

Maka, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pun mengizinkannya. Kemuduan, Abdullah berkata, “Karena Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam telah mengizinkan, lewatlah sekarang!”

VI. Renungilah Pula Sikap Teladan Ramlah Ummu Habibah

Ramlah, yang nama kunyahnya adalah Ummu Habibah adalah putri Abu Sufyan, pembesar Quraisy yang ketika itu masih kafir. Ketika Abu Sufyan datang ke Madinah untuk memperbaharui perjanjian gencatan senjata dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi putrinya, yang sudah masuk Islam.

Ketika ia datang ke tempat Ramlah dan ingin duduk di atas kasur Nabi (Ramlah adalah salah satu istri Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam), Ramlah dengan segera melipatnya agar tidak diduduki Abu Sufyan. Melihat hal itu, Abu Sufyan pun berkata, “Aku tidak boleh duduk di atas kasur ini atau kasur itu yang tidak pantas untukku?” Ramlah pun menjawab, “Itu adalah kasur Rasulullah, sedangkan ayah adalah seorang yang najis lagi musyrik.”[4]

Dari kisah kedua shahabat nabi, Abdullah dan Ramlah di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa tolak ukur pemberian loyalitas dan rasa cinta hanya diberikan kepada orang yang telah beriman kepada Allah dan rasul-Nya, bukan kepada orang-orang kafir, meskipun itu adalah anggota keluarga kita, meskipun itu adalah ayah ibu kita. Agar lebih meyakinkan hati pembaca, perhatikanlah firman Allah ta’ala berikut ini, yang artinya,

Kamu tidak akan temui suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun para penentang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka sendiri….” (Q.S. Al-Mujaadilah: 22)

IX. Lalu, Bagaimana dengan Ahli Maksiat?

Pembaca mulia, setelah dipaparkan masalah loyalitas kepada orang muslim dan permusuhan kepada orang kafir, muncullah satu masalah, “Bagaimana kita menyikapi seorang muslim yang banyak melakukan perbuatan maksiat?”

Jawaban pertanyaan di atas adalah bahwa orang itu terdapat hak muwalah (diberi sikap loyalitas dari kita) sekaligus mu’adah (diberikan sikap permusuhan dari kita), sesuai dengan kadar maksiatnya. Dia disayangi karena imannya, dan dimusuhi karena kemaksiatannya, dengan tetap memberikan nasihat untuknya; memerintahnya pada kebaikan, melarangnya dari kemungkaran. Bahkan, kalau perlu mengucilkannya apabila pengucilan itu dapat membuatnya jera dan malu.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Apabila berkumpul pada diri seseorang kebaikan dan kejahatan, ketakutan dan kemaksiatan, atau sunnah dan bid’ah, orang tersebut berhak mendapatkan permusuhan dan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang ada padanya.[5]

X. Penutup

Demikian pemaparan ringkas mengenai prinsip Al-Wala’ wal Bara’ (loyalitas dan permusuhan) yang harus diketahui setiap muslim. Dengan ini, mudah-mudahan kita dapat menempatkan rasa loyalitas pada orang yang tepat, dan dapat pula memberikan rasa permusuhan pada orang yang tepat pula, serta dapat memberikan sikap yang benar kepada para ahli maksiat, sesuai kadar kemaksiatannya. Mudah-mudahan tulisan ringkas ini dapat bermanfaat bagi pembaca mulia. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimus shaalihaat.

Penulis: Ginanjar Indrajati

Artikel www.muslim.or.id


[1] Disarikan dari penjelasan Dr. Shalih Al-Fauzan dalam Kitab Tauhid I, terjemah kitab التوحيد للصف الأول و العالي, Yayasan Al-Sofwa – Jakarta, cet. IV/2003, hal. 143.
[2] Hadits ini dinyatakan berderajat hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab صحيح الترغيب والترهيب /Shahih At-targhib wat-Targhib/, cet. V, penerbit مكتبة المعارف – الرياض, jilid II, hadits nomor 3030.

[3] Periksa dalam المعجم الكبير /Al-Mu’jamul Kabir/ karya سليمان بن أحمد بن أيوب أبو القاسم الطبراني /Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Abul Qasim At-Thabrani/, tahqiq حمدي بن عبدالمجيد السلفي /Hamdi bin Abdil Aziz As-Salafi/, cet. II tahun 1404/1983 M, penerbit: مكتبة العلوم والحكم – الموصل /Maktabah Al’Ulum wal Hikam – Mosul/, jilid XII, hal. 417, hadits nomor 13.537.

[4] Lihat dalam أسد الغابة /Usudul Ghabah/ karya ‘Izzuddin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Atsir Al-Jazairi, hal. 1353 via software المكتبة الشاملة. Lihat pula dalam buku Tegar di Jalan Kebenaran, Dr. Sa’id Al-Qahthani, terjemah kitab مواقف الصحابة في الدعوة إلى الله, penerbit At-Tibyan – Solo, hal.134-135.

[5] Periksa dalam مجموع الفتاوى /Majmu’ Fatawa/, jilid 28, hal. 209, via software المكتبة الشاملة.




"
Baca Selanjutnya - Kepada Siapa Loyalitas dan Permusuhan Kita Tujukan?

ISYARAT HATI YANG MATI

ISYARAT HATI YANG MATI: "
Salah satu tanda hati yang mati adalah hati yang tak merasakan apa pun saat melihat perbuatan jahat dan maksiat 


serta tak tergerak sedikitpun untuk merubah menjadi perbuatan baik. Hilang rasa sesal setelah melakukan kedurhakaan lenyap dan justru tertawa saat mengumbar nafsu bejatnya. Jika seorang hamba tertawa saat berlaku dosa dan tak merasakan apapun saat melihat kemungkaran, maka bertanda hatinya telah mati.

Jum’at, 16 Oktober 2009


"
Baca Selanjutnya - ISYARAT HATI YANG MATI

KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH: "
MERAJUT KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

Oleh:

Ustadz Samsul Afandi, SS


Pertanyaan

1. Apa arti keluarga skinah itu?

Jawaban

Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Namun, penggunaan nama sakinah itu diambil dari al Qur’an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Allah SWT telah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.Jadi keluarga sakinah itu adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Pertanyaan

2. Apa arti mawaddah wa rahmah?

Jawaban

Di dalam keluarga sakinah itu pasti akan muncul mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu kasih sayang pada lawan jenisnya (bisa dikatakan mawaddah ini adalah cinta yang didorong oleh kekuatan nafsu seseorang pada lawan jenisnya). Karena itu, Setiap mahluk Allah kiranya diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Mawaddah cinta yang lebih condong pada material seperti cinta karena kecantikan, ketampanan, bodi yang menggoda, cinta pada harta benda, dan lain sebagainya. Mawaddah itu sinonimnya adalah mahabbah yang artinya cinta dan kasih sayang.

Wa artinya dan.

Sedangkan Rahmah (dari Allah SWT) yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, rejeki. (lihat : Kamus Arab, kitab ta’riifat, Hisnul Muslim (Perisai Muslim) Jadi, Rahmah adalah jenis cinta kasih sayang yang lembut, siap berkorban untuk menafkahi dan melayani dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rahmah lebih condong pada sifat qolbiyah atau suasana batin yang terimplementasikan pada wujud kasih sayang, seperti cinta tulus, kasih sayang, rasa memiliki, membantu, menghargai, rasa rela berkorban, yang terpancar dari cahaya iman. Sifat rahmah ini akan muncul manakala niatan pertama saat melangsungkan pernikahan adalah karena mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah serta bertujuan hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Pertanyaan

3. Apa ciri-ciri keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu?

Jawaban

Ciri-ciri keluarga skinah mawaddah wa rahmah itu antara lain:

1. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi. Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: “ empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar’i), yakni (a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah), (b) anak-anak yang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehat , dan (d) dekat rizkinya.”

2. Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik jika saat keluar rumah istri atau suami tampil menarik agar dilihat orang banyak. Sedangkan giliran ada dirumah suami atau istri berpakaian seadanya, tidak menarik, awut-awutan, sehingga pasangannya tidak menaruh simpati sedikitpun padanya. Suami istri saling menjaga penampilan pada masing-masing pasangannya.

3. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya.

4. Suami istri secara tulus menjalankan masing-masing kewajibannya dengan didasari keyakinan bahwa menjalankan kewajiban itu merupakan perintah Allah SWT yang dalam menjalankannya harus tulus ikhlas. Suami menjaga hak istri dan istri menjaga hak-hak suami. Dari sini muncul saling menghargai, mempercayai, setia dan keduanya terjalin kerjasama untuk mencapai kebaikan didunia ini sebanyak-banyaknya melalui ikatan rumah tangga. Suami menunaikan kewajiabannya sebagai suami karema mengharap ridha Allah. Dengan menjalankan kewajiban inilah suami berharap agar amalnya menjadi berpahala disisi Allah SWT. Sedangkan istri, menunaikan kewajiban sebagai istri seperti melayani suami, mendidik anak-anak, dan lain sebagainya juga berniat semata-mata karena Allah SWT. Kewajiban yang dilakukannya itu diyakini sebagai perinta Allah, tidak memandang karena cintanya kepada suami semata, tetapi di balik itu dia niat agar mendapatkan pahala di sisi Allah melalui pengorbanan dia dengan menjalankan kewajibannya sebagai istri.

5. Semua anggota keluarganya seperti anak-anaknya, isrti dan suaminya beriman dan bertaqwa kepada Allah dan rasul-Nya (shaleh-shalehah). Artinya hukum-hukum Allah dan agama Allah terimplementasi dalam pergaulan rumah tangganya.

6. Riskinya selalu bersih dari yang diharamkan Allah SWT. Penghasilan suami sebagai tonggak berdirinya keluarga itu selalu menjaga rizki yang halal. Suami menjaga agar anak dan istrinya tidak berpakaian, makan, bertempat tinggal, memakai kendaraan, dan semua pemenuhan kebutuhan dari harta haram. Dia berjuang untuk mendapatkan rizki halal saja.

7. Anggota keluarga selalu ridha terhadap anugrah Allah SWT yang diberikan kepada mereka. Jika diberi lebih mereka bersyukur dan berbagi dengan fakir miskin. Jika kekurangan mereka sabar dan terus berikhtiar. Mereka keluarga yang selalu berusaha untuk memperbaiki semua aspek kehidupan mereka dengan wajib menuntut ilmu-ilmu agama Allah SWT.

Pertanyaan

4. Bagaimana mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu?

Jawaban

Untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah perlu melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang besar, di antaranya:

1. Pilih pasangan yang shaleh atau shalehah yang taat menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasulullah SWT.

2. Pilihlah pasangan dengan mengutamakan keimanan dan ketaqwaannya dari pada kecantikannya, kekayaannya, kedudukannya.

3. Pilihlah pasangan keturunan keluarga yang terjaga kehormatan dan nasabnya.

4. Niatkan saat menikah untuk beribadah kepada Allah SWT dan untuk menghidari hubungan yang dilaran Allah SWT

5. Suami berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah. Seperti memberi nafkah, memberi keamanan, memberikan didikan islami pada anak istrinya, memberikan sandang pangan, papan yang halal, menjadi pemimpin keluarga yang mampu mengajak anggota keluaganya menuju ridha Allah dan surga -Nya serta dapat menyelamatkan anggota keluarganya dario siksa api neraka.

6. Istri berusaha menjalankan kewajibann ya sebagai istri dengan dorongan ibadah dan berharap ridha Allah semata. Seperti melayani suami, mendidik putra-putrinya tentan agama islam dan ilmu pengetahuan, mendidik mereka dengan akhlak yang mulia, menjaga kehormatan keluarga, memelihara harta suaminya, dan membahagiakan suaminya.

7. Suami istri saling mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya, saling menghargai, merasa saling membutuhkan dan melengkapi, menghormati, mencintai, saling mempercai kesetiaan masing-masing, saling keterbukaan dengan merajut komunikasi yang intens.

8. Berkomitmen menempuh perjalanan rumah tangga untuk selalu bersama dalam mengarungi badai dan gelombang kehidupan.

9. Suami mengajak anak dan istrinya untuk shalat berjamaah atau ibadah bersama-sama, seperti suami mengajak anak istrinya bersedekah pada fakir miskin, dengan tujuan suami mendidik anaknya agar gemar bersedekah, mendidik istrinya agar lebih banyak bersukur kepada Allah SWT, berzikir bersama-sama, mengajak anak istri membaca al-qur’an, berziarah qubur, menuntut ilmu bersama, bertamasya untuk melihat keagungan ciptaan Allah SWT. Dan lain-lain.

10.Suami istri selalu meomoh kepada Allah agar diberikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.

11. Suami secara berkala mengajak istri dan anaknya melakukan instropeksi diri untuk melakukan perbaikan dimasa yang akan datang. Misalkan, suami istri, dan anak-anaknya saling meminta maaf pada anggota keluarga itu pada setiap hari kamis malam jum’at. Tujuannya hubungan masing-masing keluarga menjadi harmonis, terbuka, plong, tanpa beban kesalahan pada pasangannnya, dan untuk menjaga kesetiaan masing-masing anggota keluarga.

12. Saat menghadapi musibah dan kesusahan, selalu mengadakan musyawarah keluarga. Dan ketika terjadi perselisihan, maka anggota keluarga cepat-cepat memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan nafsu amarahnya. Wallahu A’lam

Selamat mencoba!


"
Baca Selanjutnya - KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

KISAH SI GADIS KECIL

KISAH SI GADIS KECIL: "
Ketiak itu, fajar syawal menyingsing cerah di langit kota Madinah. Semua orang berjalan menuju lapangan untuk menunaikan shalat Id. Satu persatu kaki-kaki melangkah sambil menyeru asma Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung air mata keharuan saat berlebaran.

Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti karena sesengukan gadis kecil di tepi jalan. “Gerangan apakah yang membuat engkau menangis, anakku?” Lembut suara itu menyapa menahan beberapa detik sesenggukan gadis itu.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu, seperti mencari sesosok yang amat ia rindukan kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan itu.

“Ayahku mati syahid dalam sebuah peperanganbersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab pertanyaan pria di hadapannya tentang ayahnya. Seketika , pria itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau seandainya Aisyah menjadi ibumum Muhammad ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa pria yang sejak tadi berdiri di hadapannyatak lain adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Siapakah yang tak ingin beayahkan pria yang paling mulia dan beribu seorang ummul mu’minin?.

Begitulah manusia yang paling mulia dan agungitu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari Raya kembali tersenyum. Barangkali itulah senyum terindah seorang anak yatim…..

Rasulullah membawa serta gadis kecil itu ke rumah beliau, kemudian beliau memberikan pakaian bagus, sehingga dia tampak tidak berbeda dengan Hasan dan Husain.

Rasulullah SAW mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi dan keluarganya sendiri. Teladan seperti ini begitu melekat dalam benak orang-orang zaman dahulu. Karena itu, perlu kiranya kita mensuritauladani sunnah Rasulullah dalam kehidupan kita. Semoga bermanfaat.




"
Baca Selanjutnya - KISAH SI GADIS KECIL

Tiada Yang Tidak TerBalas

Tiada Yang Tidak TerBalas: "
Ada sebuah kisah nyata yang terjadi didalam kehidupam masyarakat. Cerita ini saya dengar dari seorang Doktor alumni dari Amerika Serikat pada saat saya mengikuti kuliah di pasca sarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tepatnya hari Selasa tanggal18 Desemember 2010 pukul 13.30 WIB. Pak Basri bercerita, ada seorang kontraktor yang sangat sukses dan bersahaja. Tidak hanya kawan yang menaruh hormat kepadanya, bahkan lawanpun mengakui ketinggian budu luhur kontraktor ini. Kesuksesannya itu diperoleh banyak pihak yang mempercayakan proyeknya kepadanya. Dia dikenal jujur, rendah hati, sederhana, transparan, lurus, kuat imannya, dan mulai akhlaknya. Jika diusiang hari dia sering berpuasa dan jika malam hari dia habiskan waktu malamnya untuk berdzikir dan beribadah kepada Allah SWT. Dia selalu mengutamakan bersedekah kepada anak-anak yatim dan janda-janda tua.


Dan yang paling disenangangi oleh klaennya adalah dia bekerja sesuai dengan perencaanaan yang telah disepakati bersama. masudnya, jika bangunan itu membutuhkan semen sebangak 15 000 sak, maka dia penuhi bangunan itu dengan 15 000 sak, jika proyek itu menggunakan batu kali kualitas nomor satu, maka dia penuhi dengan batu kali berkualitas nomer satu. Jika bangunan itu butuh besi ulir sebanyak 1000 batang, maka dia penuhi besi sesuai dengan yang diakadkan. Kontraktor ini enggan mengurangi harga atau kwalitas bahan bangunan yang dibutuhkan oleh proyeknya tersebut. Sehingga kualitas dari bangunan benar-benar sesuai denga yang diharapkan oleh pemesan tendernya. Kejujuran inilah yang menyebabkan dia disukai dan dipercaya banyak tender.

Oleh karena itulah, dia digolongkan kontraktor yang sukses dan berbudi mulia. Kejujurannya, kerendahan hatinya, keikhlasannya, ibadahnya, dan kepeduliannya terhadap kaum du’afa’ membuat dia meraih puncak kegemilangan yang sesungguhnya. Di dunia maupun diakhirat.


"
Baca Selanjutnya - Tiada Yang Tidak TerBalas